Mereka yang Kaya Raya Setelah Snapchat IPO

  • March 16, 2017
    Ada yang bernafas lega setelah Snap melepas saham ke publik. Apalagi perdagangan hari perdananya disambut sangat positif oleh investor. Ada juga yang tersenyum lebar karena mereka mendadak jadi orang kaya baru, atau makin kaya raya, setelah saham mereka di Snap dibeli oleh investor baru.
    Dalam hari pertama penawaran saham di New York Stock Exchange (NYSE), Kamis (2/3), pada mulanya harga saham Snap dijual dengan harga 17 dolar AS per lembar. Harga itu sempat meroket ke angka 26,5 dolar AS dan ditutup di level 24,48 dolar AS.
    Dalam IPO kali ini, Snap menjual 44 persen saham perusahaan ke publik atau setara 200 juta lembar saham. Saham-saham ini sebelumnya dimiliki oleh para pendiri, karyawan dan eksekutif, juga perusahaan pemodal atau investor awal Snap, yang kemudian dilepas ke publik.
    Langkah IPO ini membuat Snap mendapatkan dana segar 3,4 miliar dolar AS atau setara 45,2 triliun. Dana tersebut bisa digunakan untuk ekspansi bisnis dan mengembangkan teknologi serta fitur untuk Snapchat.
    Dua pendiri Snap yang sampai saat ini masih setia merawat perusahaan itu, dipastikan makin kaya raya dalam semalam ini. Mereka adalah Evan Spiegel selaku CEO, dan Bobby Murphy sebagai CTO. Masing-masing dari mereka menjual 16 juta lembar saham.
    Keduanya mendapatkan 272 juta dolar AS, atau setara Rp 3,6 triliun dari penjualan saham ini. Mereka masih mempunyai sekitar 210 juta lembar saham di Snap, yang nilainya kira-kira 5,2 miliar dolar AS pada penutupan hari pertama bursa.
    Selain dua pendirinya, beberapa pegawai dan juga investor dari Snap juga mendapat untung besar. Tetapi, ada juga pemegang saham yang tak melepas saham mereka dan lebih memilih untuk dipendam, tapi tak tahu sampai kapan itu dipendam.
    Vice President of Engineering Snap, Timothy Sehn, diketahui memiliki 6,6 juta lembar saham Snap. Ia tidak menjual satu pun sahamnya dalam IPO kemarin, tapi saham miliknya kini bernilai 165 juta dolar AS, setara Rp 2 triliun. Banyak, ya.
    Lalu ada Imran Khan, Chief Strategy Officer Snap, yang menguasai 2,8 juta lembar saham dan bernilai 69 juta dolar AS (setara Rp 923 miliar). Imran diketahui pernah membantu terlaksananya IPO perusahaan teknologi terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk raksasa e-commerce asal China, Alibaba. Saat itu Imran masih di Credit Suisse, sebelum bergabung dengan Snap.
    Untuk lembaga modal ventura, Benchmark Capital Partners dan Lightspeed Venture Partners, yang telah menyokong Snap sedari awal, juga mendapat untung.
    Benchmark beserta general partner-nya, Mitchell Lasky, menjual 10,7 juta saham dalam IPO ini, dengan total yang didapat lebih dari 180 juta dolar AS (setara Rp 2,4 triliun). Sementara Lightspeed menjual 4,6 juta lembar sahamnya yang bernilai 78 juta dolar.
    Saham Benchmark yang tersisa sekarang di Snap diketahui ada sekitar 3 miliar dolar AS. 

    Comments(0)

    Leave a comment

    Required fields are marked *