8 TOP CRASH PASAR SAHAM

  • April 10, 2017

    1. Crash 1929
    Bursa saham Amerika dihantam crash yang sangat kuat yang dimulai pada bulan Oktober 1929, setelah munculnya The Roaring Twenties yang menyebabkan bubble ekonomi. The Roaring Twenties ini merupakan istilah yang digunakan pada tahun 1920-an di US, Canada, United Kingdom, yang menandai tahun-tahun tersebut dengan budaya yang khas di kota New York, Chicago, Paris, Berlin, London, Los Angeles dan banyak kota-kota besarnya lainnya dalam rentang periode ekonomi yang makmur tersebut. Munculnya teknologi seperti radio, maka mobil dan pesawat diiklankan. Banyak orang-orang Amerika yang berspekulasi di bursa saham, sering meminjam uang dalam jumlah besar untuk diputarkan di saham, dan menjadi luar biasa kaya. Bubble ini pun akhirnya pecah. Bursa saham ambruk dan investor saham juga ikut ambruk hingga mati (beberapa dari mereka bunuh diri dengan cara melompat dari gedung tinggi). Ribuan bank terancam bangkrut, angka pengangguran meroket, dan US masuk ke fase Great Depression, yang baru berakhir pada akhir tahun 1930-an.

    2. Crash tahun 1973
    Dimulai dari tanggal 11 Januari 1973 s/d 6 Desember 1974 (694 hari) DJIA sudah turun -45,1%.

    3. Black Monday 1987
    Senin, tanggal 18 Oktober 1987, DJIA ambruk -22,6% dalam sehari. Sehari sebelumnya sudah turun -8%, sehingga belum sampai seminggu indeks saham sudah turun >30%.

    4. Black Friday 1989
    Terjadi pada hari Jum’at, tanggal 13 Oktober 1989. DJIA turun -6,91% dalam sehari.

    5. Krisis Finansial Asia 1997
    Krisis dimulai pada bulan Juli 1997 di Thailand yang ditenggarai oleh kolapsnya Baht, mata uang Thailand. Krisis ini dengan cepat menyebar sampai ke Indonesia dan Korea Selatan. Kemudian berturut-turut menghantam Hongkong, Malaysia, dan Filipina. Jepang menderita penurunan terparah, karena Asia merepresentasikan 40% dari total pasar mereka. Pertumbuhan GDP real Jepang ambruk dari 5% ke 1,6% dan tahun 1998 Jepang mengalami resesi. Di Indonesia sendiri pada tahun 1998, krisis ini pula yang akhirnya menumbangkan Presiden Kedua RI Soeharto akibat kekacauan politik ekonomi, rupiah yang terpuruk, dan inflasi yang tinggi.

    6. Dot Com Bubble 2000
    Isu tentang internet sudah diiklankan sejak tahun 1995, selang 2 tahun sejak diluncurkannya web browser pertama. Entah benar atau tidak, setiap perusahaan diyakini akan sukses dengan cara menambahkan e- di depan nama perusahaannya. Menjelang tahun 2000 (awal milenium baru), euforia soal internet ini semakin menjadi-jadi. Investor yang sangat yakin dengan masa depan bisnis ini menginvestasikan uangnya ke Silicon Valley, yaitu rumah bagi para perusahaan-perusahaan teknologi, tanpa ada gambaran sama sekali bagaimana caranya meraih profit dari sana. Banyak jutawan yang dibentuk dalam waktu semalam saja. NASDAQ mencapai puncaknya pada tanggal 10 maret 2000 (sudah naik 100% dibandingkan tahun sebelumnya). Mei 2000 terjadi hal yang mengenaskan. Balon itu pecah dan jutaan dollar lenyap. NASDAQ turun dari 5046 ke 1114 (-78%) dan katanya butuh 15 tahun untuk pulih. Namun sampai hari ini NASDAQ belum pernah mencapai level di atas 5000 lagi,

    7. Subprime Mortgage 2007-2009
    Tahun 2000, suku bunga pinjaman sangat rendah. Pada saat yang bersamaan harga rumah meningkat tajam, sehingga membeli rumah tidak lagi untuk tempat tinggal, melainkan untuk mengambil keuntungan jual beli darinya. Dengan kenaikan harga rumah yang meroket, mereka yang sudah memiliki rumah berfikir untuk memutar uangnya. Caranya adalah dengan menghipotekkan rumah (mortgage).

    Catatan :
    Hipotek ini punya prinsip yang sama dengan gadai. Bedanya, barang jaminan gadai berada di tangan pemberi pinjaman, sedangkan hipotek tetap berada di tangan peminjam. Itu sebabnya hipotek ini hanya berlaku pada barang-barang yang tak bergerak.

    Bank dengan mudah meminjamkan uang hipotek ini. Pertanyaannya, darimana uang pinjaman ini berasal? Tentunya bank pun berharap aliran uangnya lancar selepas memberikan pinjaman itu. Tapi yang terjadi tidak begitu. Banyaknya hipotek-hipotek berkualitas rendah sehingga peminjam tak sanggup membayar pinjaman.* Akibatnya likuiditas menjadi kering, dan bank sibuk melelang rumah-rumah hipotek yang gagal bayar oleh pemiliknya. Krisis likuiditas di perbankan ini berdampak langsung pada bursa saham. DJIA pun ambruk -80% dalam waktu 6 bulan.

    *Ini masih sebatas wacana, karena banyak mendebatkan soal ini. Hingga ini hari banyak yang belum pasti apa penyebab krisis subprime mortgage ini. Saya sendiri berpendapat gagal bayarnya hipotek ini bukan karena tidak mampu bayar, tapi ada ‘sesuatu’ di tengah jalan yang memaksa mereka tak lagi mampu membayar. Sesuatu yang kuat… dari tingkat pemerintahan, mungkin.

    8. Flash Crash 2010
    Di tahun 2010, DJIA rontok 1000 poin dalam 20 menit, tapi langsung pulih beberapa menit setelahnya. Ini disebut Flash Crash. Tampaknya ini dilakukan oleh seorang saja, sebuah kekeliruan. Namun percaya atau tidak, kita menyaksikan beberapa flash crash semacam ini setelah itu. Volatilitas pasar dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang mempercayakan uangnya pada komputer. Kecepatan akses, koneksi, algoritma program, dan sebagainya menjadi senjata utama. Yang paling dikhawatirkan dari kejadian ini adalah tak seorangpun yang bisa mengidentifikasi apa penyebab utama terjadinya flash crash, walaupun semua perangkat pengamanan sudah terpasang (dan sudah bekerja).

    Referensi :
    http://content.time.com/…/p…/0,29307,1849374_1779304,00.html
    http://en.wikipedia.org/…/List_of_stock_market_crashes_and_…
    http://www.thebubblebubble.com/historic-crashes/
    http://dprogram.net/…/the-10-worst-stock-market-crashes-in…/
    http://www.therichest.com/…/10-biggest-stock-market-crashes/
    http://www.marketwatch.com/…/10-greatest-market-crashes-201…
    http://govtslaves.info/comprehensive-list-of-stock-market-…/
    http://banking.about.com/od/mortgages/a/mortgagecrisis.htm

    http://saham-ceria.blogspot.co.id/…/top-8-crash-di-bursa-sa…

     

    Comments(0)

    Leave a comment

    Required fields are marked *